Jumat, 30 November 2018

Warm Voice, Cold Heart - Bagian Kelima


“Selamat pagi!”
“Selamat pagi, Pak!”
“Bagus juga semangat kalian pagi ini. Sudah siap bercerita?”
Mendengar pertanyaan itu, Abdul seketika berteriak, “Titis siap cerita, Pak!”

“Titis, mana anaknya? Silahkan maju.”

Baiklah, aku harus membacakan cerita yang telah kususun semalam. Tanpa basa-basi, aku segera maju dan membaca
karya fiksi singkatku, agar segera terbebas dari perasaan tegang menunggu giliran. Setelah usai, aku segera kembali ke bangkuku.


“Mas, tunjuk satu orang untuk maju ke depan.”
“Abdul, Pak. Si pembunuh bangke.”

Kelas dipenuhi gelak tawa singkat, disertai sorakan yang membuat kelas sangat gaduh. Abdul pun menceritakan pengalaman pribadinya mengenai hak seseorang untuk merokok, dan hak orang lain untuk menghirup udara segar. Ya, Abdul memang seorang perokok, namun dia tak pernah mengganggu orang yang intoleran terhadap asap rokok.

Cerita demi cerita telah usai disampaikan, kelas ini berakhir. Aku memutuskan untuk on bid karena kelas selanjutnya masih empat jam lagi. Dan benar saja, satu order masuk untuk pesan antar makanan.

“Halo, dengan Mbak Rani? Saya Robertus, yang terima orderan food-nya Mbak.”
“Iya betul, ada apa Mas?”
“Saya mau konfirmasi, pesanannya 1 porsi pecel tambah lauk telur dadar ya, Mbak?”
“Iya Mas, sesuai aplikasi. Saya bayar cashless ya Mas, nggak usah dianter. Buat sarapan Mas aja.”
“Wah! Serius, Mbak? Terima kasih banyak, Mbak. Semoga kebaikannya dibalas berlipat ganda.”
“Sama-sama, Mas, semoga sarapan paginya enak.”

Percakapan kuakhiri, dan aku segera menuju warung pecel yang dimaksud oleh Mbak Rani.

“Titis, lama nggak ambil order ke sini kamu.”
“Iya Mas, aku sering ambil deket kos aja soalnya.”
“Mau makan apa dapet order?”
”Dapet order, Mas, tapi aku yang disuruh makan. Ini, Mas.”

Lalu aku menunjukkan aplikasi driver-ku, dan Mas Haris menyiapkannya untukku.

Nyoh, Tis. Ekstra nasi tuh.”
Muesti ndadak ngerepoti. Maturnuwun lho, Mas!”

Sudah ada seporsi nasi pecel dan telur dadar, dengan teh hangat yang selalu gratis untuk driver ojek online. Ketika hendak menyantap sarapanku, ada sebuah pesan masuk dari Brian.

“Tis, posisi”
“Mas Haris. Sini, cuk, sarapan! Tak traktir!”
“Oke!”

Kos Brian memang sangat dekat dengan warung pecel Mas Haris, cukup berjalan kaki saja. Tak lama kemudian, Brian datang dan langsung memesan seporsi pecel.

“Tumben traktiran?”
“Aku habis dapet rejeki, ada yang order ke sini tapi aku sendiri yang disuruh makan.”

Cukup 5 menit, sarapan kami sudah habis.

“Tis, iso nyilih motor?”
“Ha, motormu ngopo?”
Headlamp’e mati cuk. Shinta ngajak dolan. Engko nek ketilang yo’opo?

Hm, Brian. Dia kira aku buka persewaan motor? Oh, aku lupa. Shinta, pacar Brian. Mereka sekelas saat semester 1, dan sudah berpacaran sejak semester 2. Aku sudah biasa jadi obat nyamuk mereka.

Nyoh, nggo tuku headlamp. Nanti tak pasangke, tinggal pinjem kunci-kunci ke Mas Haris.”

Mas Haris, penjual pecel yang juga seorang biker. Warung pecelnya selalu jadi tongkrongan para biker yang ingin sarapan sebelum sunmori (Sunday morning ride). Perkakas montir motor di rumah sekaligus warungnya cukup lengkap, sepertinya sudah cukup untuk membuka jasa servis motor.

Yo wis Bri, ndang budhal kono!
“Oke, Mas. Sing mbayar pecelku Titis yo Mas!”

Brian pun menunggangi kuda besiku, bergegas menuju bengkel terdekat. Karena warung terasa sepi, Mas Haris menghampiriku dan membuka percakapan kembali.

“Tis, pacarmu mana?”
“Halah Mas, aku sik gini-gini aja.”
Sik mikir mantanmu yang pas maba?”
Yo ora, Mas. Mung aku belum nemu yang cocok.”
Mosok? Koncomu wedok akeh lho.
Sakjane kenalan-kenalanku yo akeh sing menarik Mas, mung kurang yakin mergane lagek kenal.”
“Gas terus, Tis. Pepet terus. Nek durung kenal yo coba kenali lebih dalam ngono lho. Emang arek’e koyok opo?”

Lalu kucari foto Lisa di aplikasi perpesanan dalam smartphone-ku, dan kutunjukkan kepada Mas Haris. Dia sedikit tersenyum melihat foto Lisa.

Ngopo e Mas? Ojo digebet, tak laporke Mbak Lia lho.”
Gak-gak Tis, duh. Takis ae, ayu lho. Rupane arek’e kalem, ramah.”

Mas Haris memang sudah hobi memotivasi para jomblo untuk punya pacar. Termasuk Brian, yang akhirnya berpacaran dengan Shinta. Terkadang, ketika Mbak Lia –istri Mas Haris- juga standby di warung, dia juga akan melakukan hal yang sama.

Yo wis, Mas. Coba tak chat, tak jak dolan bengi iki. Batu jos.”

Aku pun segera mengirimkan pesan singkat kepada Lisa.

“Lis, malem ini sibuk?”

Tak lama kemudian, Brian datang membawa headlamp baru untuk motornya.

“Motormu bawa sini, Bri.”
Terno lah.
Lenje iki, mang budhal rene yo mlaku ae.”, sahut Mas Haris sambil menyiapkan perkakas montirnya.
“Hmmmm oke, tak ambil motor sik.”

Tak lama, Brian kembali bersama motornya.

“Emang iso masang’e?”
Iso Bri, santai.”

Segera saja kubongkar wajah motor Brian untuk mengganti lampunya.

“Bri, ngerti gak? Koncomu kasmaran iku lho.
“Halah Mas, paling ambek  Lisa.”
“Bener jenenge Lisa, Tis?”
Iyo Mas, bener.”
“Titis isin Mas, padahal wis tak takoni pas pertama ketemu Lisa.”
Wis menego cuk, gak tak garap lho motormu iki!

Setelah 8 menit berselang, Brian sudah tak perlu khawatir ditilang Polisi.

Wis beres. Selamat nge-date, cuk.
“Pantes dadi montir, Tis. Diajari Bapakmu?”
Ho’oh, Bapakku kan multi talent. Mas Haris, aku pamit sik, golek orderan neh.”, aku beranjak dengan tak lupa membayar pecel yang dipesan Brian.

Setelah 2 jam, aku pun sudah menerima 6 order, dan harus kembali ke kampus. Saat aku off bid, masuk sebuah pesan dari Lisa.

“Mbb Tis, aku kelas sampe jam 4 sore. Kenapa?”
“Aku pengen ke Batu, temenin aku yuk!”

Kupacu motorku menuju ke kampus, berharap tidak terlambat. Bu Yayuk tidak memberikan toleransi keterlambatan. Jika aku terlambat, maka satu-satunya cara (illegal) untuk membuatku tetap hadir secara administrasi adalah dengan titip absen.
Sesampainya di kampus, aku segera mengirim pesan kepada Rudi.

“Rud, Bu Yayuk udah masuk?”
“Belum, Tis. Buruan sini keburu orangnya masuk. Udah telat 5 menit nih dari jadwal.”

Mengantri untuk naik lift ke lantai 5? Tidak semudah itu, Titis (jangan kira akan ada Ferguso dalam cerita ini). Aku dengan sangat terpaksa harus berlari mendaki tangga untuk sampai ke lantai 5. Benar saja, tak perlu semenit untuk sampai, dan aku masuk ke ruang kelas bersama Bu Yayuk.

“Selamat siang, untuk kuliah hari ini saya hanya akan memberikan kuis bersifat open gadget. Materi kuisnya adalah sifat kimia karbohidrat dan turunannya.”

Aku segera duduk mengisi bangku kosong di deretan terdepan, dan mengeluarkan pena serta secarik loose leaf dari ranselku. Kusiapkan juga smartphone untuk berburu jawaban di internet, sambil sedikit berharap ada pesan dari Lisa untukku.

“Soal bisa dilihat di slide, waktu pengerjaan 35 menit dari sekarang.”

Kulihat ada pemberitahuan pesan masuk dari Lisa, dan aku memutuskan untuk membacanya terlebih dahulu.

“Kayaknya kalo ke Batu enggak dulu deh Tis, besok aku ada kelas pagi. Kalo mau, kita ke kafe aja. Aku ada rekomendasi 1 kafe baru nih, outdoor, instagrammable juga. Aku bisa pesenin tempat juga. Jadi anak Pertanian pasti butuh refreshing ya?”
Deal. Pesenin buat jam 18.30 aja. Jangan lupa shareloc rumahmu, nanti tak jemput.”
“Nggak usah Tis, langsung ketemu disana aja. Ini lokasinya.”

Dan Lisa mengirimkan lokasi kafe itu kepadaku. Rupanya tak jauh dari kosku, dan aku tak butuh banyak bensin. Baiklah, soal dari Bu Yayuk telah menungguku.
Sebanyak 4 soal telah kukerjakan semua dengan sisa waktu 7 menit.

“Bu, saya sudah selesai.”
“Oke, Titis. Silahkan dikumpulkan, tanda tangan absen, dan boleh meninggalkan ruangan.”
“Baik Bu, terima kasih.”

Aku segera memacu kuda besiku untuk kembali ke kos. Karena aku merasa lapar dan warung Bu Ambar masih buka, aku memutuskan untuk mampir sejenak.

“Bu, nasi lodeh lauk telur dadar 1 ya.”
“Siap, le, 7 ribu. Tumben jam segini kamu mampir?”
“Iya Bu, tadi siang belum sempat makan, trus kelasnya yang barusan cuma setengah jam.”
“Uuuu mesakke. Ini le pesenanmu, nasinya tak tambahi. Mesti laper banget to, habis narik?”
“Waduh Bu, ndadak ngerepoti. Inggih Bu, saya habis narik tadi.”
Wis gek ndeng maem, lumayan nek sempat narik lagi.”

Aku pun segera menyantap pesanan makan siangku. Setelah 15 menit berada di warung, aku kembali menyeberang menuju kosku. Aku harus mempersiapkan diri, sebelum bertemu dengan sosok gadis yang... Hmm... Ya, begitulah.

“Tis, aku berangkat sekarang.”
“Oke Lis, bentar lagi aku berangkat.”

Tuhan, apakah ini ilusi? Atau, nyata adanya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Monggo dikomentari, gunakan bahasa yang sopan ya ! :)